Untuk anda yang ingin berbisnis dengan keberkahan

Ini bukan hanya tentang materi, tapi juga tentang ketenangan hati.
Insya Allah materi buku ini mampu merubah pola pikir yg akan berimbas pada perbaikan hidup.

Jangan terburu-buru Putuskan Beli, kalau tidak mau merasakan Manfaat yang berlimpah dari ilmu buku ini.

Sebagai pengusaha atau calon pengusaha, mendapatkan penghasilan yang tinggi adalah suatu yang sangat diinginkan. Tapi apakah Anda yakin jika bisnis yang Anda jalankan sekarang sudah mendapat keberkahan darinya?

Banyak juga yang terlalu berkutat dengan teknik untuk membuat bisnis tetap jalan tapi lupa pada iman. Dengan bangganya juga mereka menganggap diri mereka sukses hingga melupakan siapa yang memberinya jalan agar bisnisnya tetap bertahan

Buku terbaru dari Ki Jendral Nasution
“The Science Of Wealth”

Buku saya yang berjudul “The Science of Wealth” InsyaAllah akan terbit Agustus 2018. Semoga tak ada halangan agar buku ini bisa hadir tepat waktu.

Buku ini pada dasarnya berisi pengalaman hidup saya yang saya tuangkan menjadi teori-teori sok tau tentang rezeki. Pengalaman tentang bagaimana saya bisa bertahan hidup, menjalankan bisnis dengan menolak modal dari orangtua, meski harus berhutang kesana kemari demi bisa makan esok hari. Menggadaikan satu per satu perhiasan istri demi bisa punya uang sedikit untuk bisa tetap makan.

Perjalanan merangkak & terseok-seok menghasilkan uang demi keluar dari jeratan utang, hingga sampai di titik saya tidurpun uang datang, itulah yang saya kemas menjadi rumus, teori, prinsip atau apapun namanya di buku The Science of Wealth ini.

Di titik itu juga saya akhirnya menyadari, bahwa rupanya kemakmuran atau kesejahteraan itu bukan sebuah kebetulan. Ada rangkaian sunnatullah yang mesti dituntaskan untuk mencapainya.

Karena kemakmuran merupakan rangkaian sunnatullah, maka dia sesungguhnya punya pola dan struktur. Karena dia punya pola dan struktur, maka dia sesungguhnya adalah sains yang bisa dipelajari oleh siapapun. Rangkaian pola dan struktur itulah yang saya coba uraikan di buku ini. Maka nanti kita akan bertemu dengan bahasan tentang sikap mental, prinsip, strategi atau apapun yang mengarahkan kita pada kemakmuran finansial.
Buku ini bisa dikatakan sebagai “bisul pecah” dari kelas Wealth Mindset yang saya adakan selama ini. Karena sejujurnya saya begitu gregetan ketika ada banyak teman yang rupanya kebingungan menjemput rezekinya. Selalu ada loncatan pikiran di kepala saya tentang tindakan, langkah, cara berpikir teman-teman itu dalam menjemput rezekinya, “Duh kenapa kayak gitu mikirnya?”, “Duh ngapain sih harus begitu?”, “Ya jelas gagal kalau strateginya begitu!” dan loncatan pikiran lainnya.

Secuil penjelasan buku “The Science Of Wealth”

Lauh Mahfuzh & Takdir

Tentang bagaimana konsep takdir di alam semesta ini yang tertulis lengkap di Lauh Mahfuzh. Kesalahan apa saja yang ada selama ini dalam memahami konsep takdir, dalam konteks rezeki, atau lebih spesifiknya dalam konteks penghasilan. Dalam konteks menghasilkan uang.

Sunnatullah & Syariatullah

Tentang bagaimana memahami secara komprehensif hukum kausalitas di alam semesta, dan syariat Allah.

Ring Satu

Tentang bagaimana kita mendesain lingkungan yang akan memengaruhi pencapaian rezeki kita.

Mendesain outcome

Tentang bagaimana secara sunnatullah sebenarnya kita bisa merancang, berapa penghasilan yang kita miliki. Merancang itu artinya memperjelas semua pekerjaan teknis yang akan mengarahkan kita pada sumber penghasilan.

Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin

Tentang sikap mental, cara memandang persoalan, cara bertindak, prinsip orang kaya yang membuat mereka semakin kaya, dan cara bertindak, prinsip, sikap mental yang membuat orang miskin semakin miskin.

Kapasitas diri

Tentang bagaimana mestinya seseorang menambah kapasitas dirinya. karena kapasitas diri itu selalu berbanding lurus dengan daya tampung dirinya terhadap rezeki

Zakat dan Haji

Tentang bagaimana kesalahan berpikir sebagian besar kita terhadap kedua rukun Islam ini. Misal, secara tekstual, hadits Rasulullah tentang rukun Islam itu hanya berbunyi “wa hajjal bait’…‘Dan berhaji’. Bunyinya bukan, “Naik haji bagi yang mampu”. Sehingga, ini bisa jadi pembenaran bagi sebagian orang, “Saya kan nggak mampu, jadi nggak wajib naik haji.

Manusia Level 4

Tentang level kompetensi manusia. Tujuan kita adalah level 4. Dalam konteks kemakmuran finansial, ada orang yang tak pernah sampai di level 4. Mereka terjebak di level 3. Level dimana manusia selalu haus pengakuan, haus pujian. Level dimana sombong biasanya mendominasi perasaan. Dan kita mesti keluar dari level itu, untuk naik ke level 4.

Monetizing Intelligence

Tentang kecerdasan seseorang dalam menguangkan keahlian, keilmuan, bakat, minat, hobi, atau apapun sumber daya yang ada di dirinya. Itu yang menjadi masalah terbesar Pendidikan di negara ini. Ada banyak orang pintar, sekolah tinggi, sarjana, tapi bingung luar biasa untuk menghasilkan uang. Kita akan bahas tuntas apa sebabnya, dan seperti apa mestinya.

Mewariskan mindset kemakmuran

tentang bagaimana ketika kita menjadi orangtua, bisa mewariskan mindset kemakmuran kepada anak-anak kita. Jika hanya mewariskan harta, maka itu bisa jadi sumber bencana. Bukankah kita sering melihat saudara sekandung bisa jadi bermusuhan, bahkan sampai saling bunuh hanya karena rebutan warisan?

Gaya hidup pas-pasan, penghasilan berlebihan

Adalah prinsip baru yang mesti ada di kepala kita. Agar membalik mainstream gaya hidup orang kebanyakan. Di luar sana, kebanyakan orang hanya berpenghasilan kurang dari 10juta, atau bahkan kurang dari 5juta, tapi…wuih gayanya itu macam dia punya tambang emas. Segala barang mewah dia punya, demi bisa eksis dalam pergaulannya. Mending kalau dibeli tunai, yang ada tiap bulan tagihan utang melambai-lambai minta ditunaikan.

Dan banyak lagi bahasan lainnya yang Insya Allah akan melatih logika kita tentang kemakmuran dan kesejahteraan.

“Apakah ada jaminan saya bisa kaya kalau saya punya buku ini?” Buku ini tentu tak bisa menjamin apapun. Ada banyak variabel untuk bisa mencapai kemakmuran finansial. Mulai dari kecerdasan & fleksibilitas berpikir, lingkungan, dan lain sebagainya. Lah, wong nulis postingan saja masih copy paste dan penuh singkatan yang hanya dia dan Allah yang tahu maksudnya, gimana mau baik kondisi finansialnya?

Spoiler buku “The Science Of Wealth”

Awal sindrom level 3 ini berasal dari iblis. Makhluk yang pertama kali terkena sindrom level 3 adalah iblis. Dulu, iblis adalah makhluk yang paling taat kepada Allah. Paling banyak bersujud kepada Allah.

Dia nampaknya menyadari bahwa dia adalah makhluk yang paling taat kepada Allah. Cuma masalahnya, nggak ada yang memuji dia. Dan mungkin iblis kesal karena tak ada yang memuji ketaatannya. 

Momentum puncak kekesalannya adalah ketika Allah menciptakan manusia pertama kali. Allah beri nama Adam. Dan Allah memerintahkan semua untuk bersujud kepada Adam ‘alayhissalam. Semua malaikat tunduk kepada perintah Allah. Hanya iblis yang tak mau bersujud pada Adam. 
Sebabnya, iblis merasa dia lebih baik dari Adam. Iblis diciptakan Allah dari api, dan Adam diciptakan dari tanah, jadi dia menganggap dirinya lebih baik dari Adam. “Ana khayrun minhu” kata Iblis.

Jadi sindrom level 3 ini bisa dikatakan, diwariskan dari iblis. Sindrom level 3 ini berlaku dalam berbagai konteks. Nggak hanya dalam konteks kekayaan harta. Termasuk juga dalam konteks keilmuan. Salah satu sindrom level 3 yang paling berbahaya adalah ketika seseorang merasa paling pintar, paling tahu, paling hebat ilmunya dari orang lain.

Dia memang sudah menyadari bahwa dia punya ilmu. Tapi baru saja. Belum lama. Karena itu, dia butuh pengakuan dari orang-orang bahwa dia adalah orang berilmu. Bahwa dia pintar, hebat, jenius, cerdas dan lain sebagainya. Maka, biasanya yang mereka lakukan adalah mendominasi pembicaraan, mendebat pendapat orang, menyalahkan orang, bahkan sampai menghakimi orang.

Apa yang harus dilakukan ketika bertemu dengan orang-orang semacam ini? Bagi saya, cara paling tepat untuk menghadapi mereka adalah mengiyakan apapun yang mereka katakan. Nggak perlu melayani perdebatannya. Nggak perlu membantah apapun yang dikatakannya. Kenapa? Karena percuma. Melayani perdebatan mereka adalah tindakan bodoh yang akan membuang waktu dan tenaga kita.

Orang-orang seperti ini, yang masih kena sindrom level 3 ini, mau diomongin apapun, ngeyelnya luar biasa. Karena bagi mereka, hanya pendapat mereka lah yang benar. Orang lain pasti salah. Jadi, nggak perlu membantah mereka. Nggak perlu melayani perdebatan mereka. Biarkan saja mereka katakan apapun yang mereka mau katakan.

Nanti sindrom level 3 nya akan berhenti, ketika mereka sudah sampai di level 4. Dan mereka hanya akan sampai di level 4 ketika mereka nggak berhenti belajar. Ketika mereka sampai di level 4 suatu saat nanti, mereka akan menertawakan kebodohannya di masa lalu. Masa dimana mereka mendebat orang lain, menyalahkan orang lain, dan menghakimi orang lain.

Tapi kalau mereka nggak melanjutkan proses pembelajarannya, mereka hanya akan sampai di level 3 ini. Dan sindrom level 3 ini akan terus bersarang di kepalanya. Sampai mati.

***

Dikutip dari buku “The Science Of Wealth”

#TheScienceOfWealth

Ketika saya memutuskan menikah saat kuliah, dengan penghasilan amat sangat kecil, saya perlu menyiapkan diri dengan apapun konsekuensinya. Dengan apapun takdir yang akan saya terima. Saya tentu sudah berpikir, bahwa satu takdir yang akan saya terima setelah menikah adalah punya anak.

Dan tiba saatnya istri saya akan segera melahirkan. Dibawa ke rumah sakit. Dan anak pun lahir. Masalahnya adalah, saya nggak punya uang untuk persalinan istri! 
Cara paling mudah adalah pinjam uang ke teman. Lalu saya tinggal berpikir bagaimana melunasi pinjaman itu. Alhamdulillah saya hampir selalu bisa menepati janji untuk bayar tepat waktu. Kalaupun saya nggak bisa tepat waktu, saya selalu katakan kepada teman yang saya utangi.

Dimana bagian berpikir fleksibelnya? 
Di bagian bayar utang! 

Kalau cuma pinjam uang ya mudah. Bayarnya itu lho yang jungkir balik. Dulu saya cuma pinjam uang 4juta seingat saya. Tapi luar biasa berat saya membayarnya. Saya nggak punya bayangan sama sekali darimana saya mendapatkan uang. Tapi, di sanalah dibutuhkan kemampuan berpikir fleksibel. Apapun yang bisa menghasilkan uang saya lakukan. Kemampuan berpikir fleksibel yang akan menyelamatkan kita di kondisi semacam itu.

Karena ketika cara berpikir kita nggak fleksibel, otak bisa berhenti bekerja. Nggak akan ada ide untuk melakukan sesuatu yang menghasilkan uang. Ini yang akhirnya menjadi jebakan. Ketika seseorang yang berada di kondisi seperti saya nggak punya kemampuan berpikir fleksibel, maka dia akan cari cara paling mudah untuk bayar utangnya. Apa cara paling mudah untuk bayar utang? Ya, ngutang lagi ke orang lain!

Ini yang dikatakan bang haji Rhoma Irama di salah satu lagunya : 
Lobang digali menggali lobang
Untuk menutup lobang
Tertutup sudah lobang yang lama
Lobang baru terbuka
Gali lobang tutup lobang
Pinjam uang bayar hutang
Gali lobang tutup lobang
Pinjam uang bayar hutang

Udah, nggak usah goyang gitu kepalanya.

***

Dikutip nggak secuil dari buku “The Science Of Wealth”

#TheScienceOfWealth

“Bang, apa Filosofi dari cover buku The Science of Wealth?”

Ada 2 orang yang bertanya seperti itu di grup bedah buku semalam. Di 2 grup yang berbeda.

Filosofi sampul buku The Science Of Wealth sederhana sebenarnya.

Perahu kertas itu ibarat hidup kita. Kita ini sebenarnya sedang berlayar menuju satu tujuan. Melompat dari satu takdir ke takdir yang lain yang sudah tertulis lengkap di Lauh Mahfuzh. Kita tinggal memilih jalur yang mana. Perahu kertas ini nggak mungkin sampai ke tujuan, karena terlalu lemah. Terlalu mudah rusak dan tenggelam. Maka dia diikat dengan sebuah bola lampu.

Bola lampu itu yang membuatnya kokoh dan menghindari tenggelam. Karena dengan itu perahu bisa tetap mengapung. Jadi bisa tetap bergerak maju. Bola lampu itu adalah sunnatullah di alam semesta ini yang mesti dipenuhi. Mau punya uang ya kerja. Mau uangnya banyak, ya kerjanya yang bener.

Tapi kalau bola lampu itu nggak memancarkan cahaya, kita nggak bisa mengendalikan arah perahu kita. Karena gelap gulita di sekitarnya. Bisa-bisa ada karang yang memecahkan bola lampu dan menenggelamkan perahu. Cahaya dari bola lampu itu adalah syariatullah. Aturan Allah yang sifatnya boleh nggak boleh, halal haram, dosa pahala. Aturan ini yang mengarahkan gerak hidup kita.

Ada orang yang ngebut perahunya karena bola lampunya bahannya bagus. Tapi nggak ada cahayanya. Akhirnya rusak perahunya nabrak karang, nggak bisa lanjut perjalanan. Itu seperti orang-orang yang menipu, korupsi, sikut kanan kiri, menjilat, demi menghasilkan uang. Amati saja, nggak mungkin ada yang tenang hidupnya. Karena mereka punya bola lampu, tapi ngga ada cahayanya.

Takdir, lauh mahfuzh, sunnatullah, syariatullah dan kawan-kawan lainnya, itulah bahasan yang kita bahas di buku ini.

#TheScienceOfWealth

Bukankah di episode terakhir kisahnya, Allah mengakhiri kejayaan Qarun? Andai Qarun tahu akhir kisah hidupnya, apa mungkin dia berani mengklaim bahwa seluruh kekayaannya, mutlak adalah hasil kerja kerasnya, dan tak ada peran Allah atas kekayaannya? Mustahil dia berani!

Maka, dari sini kita tau bahwa Qarun bukanlah orang cerdas yang bisa berpikir mendalam. Qarun adalah eksekutor & pemikir hanya di dalam bisnisnya. Bukan pemikir dalam kehidupannya.

Itu sebabnya, azab yang ditimpakan Allah kepada Qarun, mesti menjadi pelajaran berharga bagi orang-orang yang berminat menggunakan pikirannya. Bagi yang tak berminat menggunakan pikirannya, tentu tak akan jadi pelajaran apapun.

Kejayaan seseorang, memang sebab ia memenuhi sunnatullah yang ada di alam semesta ini. Hanya saja, ia mesti sadar sesadar-sadarnya, bahwa sunnatullah yang berlaku di alam semesta ini adalah sistem. Yang namanya sistem pasti punya pencipta. Dan sang penciptanya, bebas melakukan apapun terhadap sistem yang dibuatnya.

Kesalahan terbesar Qarun adalah kesombongan. Dan kesombongan itu semacam… [some text missing and try to find it.]

***

Dikutip secuil dari buku “The Science Of Wealth”

#TheScienceOfWealth

Saya dulu berdoa ingin jadi pegawai BUMN, tapi nggak dikabulkan. Ternyata Allah ganti dengan menjadi pengangguran yang alhamdulillah punya sedikit penghasilan. 
Saya dulu berdoa agar KPR saya di ACC bank. Tapi nggak dikabulkan. Ternyata Allah ganti dengan bisa punya rumah tanpa sedikitpun ada pinjaman ke siapapun.

Jadi, pilihan kita seringkali bukan yang terbaik untuk kita. Karena kita nggak pernah tau masa depan kita seperti apa. Kita nggak tau takdir kita kayak apa. Kita tak punya ilmu sedikitpun tentang apa yang terbaik untuk hidup kita. Allah yang memiliki diri ini, maka DIA yang paling mengetahui apa yang terbaik untuk diri ini.

Maka bagi saya, doa terbaik itu adalah doa yang memasrahkan apapun yang terbaik menurut Allah. Doa agar Allah berikan takdir yang semakin mendekat padaNYA. Biarkan Allah yang mengatur hidup kita.

“Ya Allah, Engkau maha tahu aku punya rencana A, B, C. Tapi Engkau yang maha tahu apakah itu yang terbaik untukku atau tidak. Jika itu baik, dekatkan ya Rabb. Jika tak baik bagiku, jauhkan ya Rabb. Aku pasrahkan semua padaMU.”

***

Secuil kutipan dari buku “The Science Of Wealth”

#TheScienceOfWealth

Salah seorang psychobiologist dari Jerman yang bernama Otto Loewi membenarkan gosip yang beredar tentang hubungan antar neuron. Gosipnya selama ini, neuron-neuron ini bisa saling berkomunikasi. Dan kata Loewi gosip itu benar.

Neuron-neuron itu memang saling berkomunikasi dengan mengeluarkan zat-zat kimia tertentu atau setruman listrik tertentu. Itulah yang akhirnya dikenal dengan neurotransmitter.

Hubungan ini jika terus terjadi, nanti akan memengaruhi koneksi antar sinaps. Karena neurotransmitter memang terjadi di dalam struktur sinaps.

Jadi setiap informasi yang diterima oleh otak dari luar, lalu diproses, dipastikan akan secara langsung memengaruhi komunikasi antar neuron ini. Yang jadi masalah, komunikasi antar neuron di dalam sinaps ini, akan secara langsung memengaruhi cara berpikir sampai pada keyakinan seseorang.

Dan kita tahu, apapun cara berpikir & keyakinan seseorang tentang sesuatu, mau nggak mau akan memengaruhi jalur-jalur takdir yang akan dipilihnya. Apapun jalur takdir yang dipilihnya, itulah takdir yang akan diterimanya.

Dalam konteks penghasilan, saya sudah membuktikan ini. Ketika saya berkumpul dengan teman-teman yang berantakan urusan penghasilannya, begitu pula penghasilan saya. Setelah saya mulai menyadari itu, perlahan saya mengubah lingkungan saya.

Saya mulai bergaul dengan teman yang penghasilan bersihnya minimal 50juta sebulan. Saya biarkan apapun yang mereka katakan, masuk ke kepala saya. Saya biarkan neuron di otak saya saling menggosip tentang apapun informasi dari orang-orang itu. Saat itu penghasilan saya masih dibawah Rp.5juta sebulan.

Perlahan, saya mulai merasakan perubahannya. Penghasilan saya perlahan mulai meningkat. Bahkan akhirnya melebihi teman-teman yang berpenghasilan Rp.50juta sebulan itu. 
Sejak itu saya membuat kesimpulan, “Oh ini yang namanya ring satu.”

Teori saya ini dibenarkan oleh hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud & Tirmidzi itu, bahwa “Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman.”

Teman itu kita maknai sebagai orang yang akan berada di lingkaran terdekat kita. Siapapun yang ada di lingkaran terdekat kita, dia yang akan memengaruhi kita. Mulai soal urusan agama, hingga urusan penghasilan.

***

Dikutip secuil dari buku “The Science Of Wealth”

#TheScienceOfWealth

Kompetensi yang buruk, jelas berpotensi keburukan. Orang baik, dengan kompetensi yang buruk, berpotensi menghasilkan keburukan. Itu sebab, Rasulullah telah sejak lama mewanti-wanti, “Sebuah urusan yang diberikan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggu kehancurannya.”

Saya memaknai hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari ini sebagai sinyal untuk menegaskan bahwa baik saja tak cukup. Shalih saja tak cukup. Seorang yang baik, mesti melesatkan kompetensinya. Ujung-ujungnya adalah cerita soal uang. Ujungnya cerita tentang potensi rezekinya.

Contoh : Seorang mbak penjual online, shalihah. Baik agamanya.Ketika melayani calon pembeli, perhatikan caranya mengetik kalimat, “Jadi…mb Mw Psan yg mana !!!? SKrg,,,Tggal yng wrna biru aj !!!”

Seperti apa kira-kira lintasan pikiran calon pembeli membaca tulisan sang penjual yang seperti itu? 
Entah kalau orang lain. Andai saya yang jadi calon pembeli, saya akan merasa tak nyaman. Meski mungkin saya akan tetap beli.

Tapi andai ada penjual lain yang cara menulisnya, “Jadi, mbak 
rencananya pengen yang warna apa? Karena untuk saat ini, stok yang ada hanya tersisa yang warna biru saja. Maafkan ya mbak..” saya lebih memilih penjual yang begini cara menulisnya.

Bahkan untuk berkomunikasi non verbal, kita perlu kompetensi. Keahlian. Apalagi memang, di zaman ini, hampir 90% komunikasi kita sehari-hari memang menggunakan komunikasi non verbal.

***

Dikutip secuil dari buku “The Science Of Wealth”

#TheScienceOfWealth

Total kekayaan Abdurrahman ibn ‘Auf adalah $ 501.000.000.000 (Lima Ratus Satu Miliar Dollar). Sekitar enam kali lipat lebih banyak dari total kekayaan Bill Gates yang cuma $86.000.000.000 (Delapan Puluh Enam Miliar Dollar) per 2017 kemarin.

Saya belum menemukan produk yang dijual Abdurrahman ibn Auf di Makkah. Tapi di Madinah, beliau membangun kerajaan bisnisnya dengan jual beli kuda, lengkap dengan asesorisnya. Itu hanya salah satunya.

Ada 3 prinsip bisnis Abdurrahman ibn ‘Auf : 
1. Beliau hanya membeli barang dengan cash, dan menjual barang dengan cash. “No credit deals” begitu kata referensi yang saya baca.

2. Beliau selalu mengosongkan stok secepatnya. Meski harga barang yang dijualnya di pasar sedang turun, pasti tetap dijual. Nampaknya ini demi sehatnya cash flow.

3. Transparansi kualitas produk. Apapun kondisinya, mau bagus atau jelek, beliau selalu katakan apa adanya kepada calon pembeli.

***

Dikutip secuil dari buku The Science Of Wealth.

#TheScienceOfWealth

Tugas kita di dunia ini bukan nyari uang. Nggak usah serius-serius amat. Jangan sampai nanti ketika ditanya, “Untuk apa umurmu dihabiskan?”

Kita menjawab, seluruh anggota tubuh kita menjawab “Untuk nyari uang.”

Nggak usah berdalih, “Nyari uang itu ibadah”
Karena masih begitu banyak ibadah lain yang mesti dilakukan. Ketika kita menghabiskan waktu kita untuk nyari uang, maka kita akan kehabisan waktu untuk mengerjakan ibadah-ibadah yang lain.

Menemani anak mengulang & menambah hafalan Qur’an itu ibadah, menemani istri ke salon itu ibadah, baca buku itu ibadah, ngajak mertua jalan-jalan itu ibadah, dan ada buaanyak lagi ibadah yang lainnya.

Nggak usah sampai jungkir balik mati-matian nyari uang. Karena sebenarnya kita bisa membuat uang datang sendiri kepada kita!

***

Secuil kutipan dari buku Science Of Wealth

#ScienceOfWealth

Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin.

Percaya nggak percaya, takdir kekayaan atau kemiskinan seseorang, selalu diperankan oleh masing-masing orang. Setiap tingkah laku, pilihan tindakan yang dilakukan seseorang, akan secara langsung memengaruhi kehidupan mereka.

Yang kaya akan memilih tindakan tertentu yang membuat mereka semakin kaya, dan yang miskin biasanya memilih tindakan yang membuat mereka semakin miskin.

Contoh : 
Beberapa waktu lalu ada tukang bangunan yang bekerja di rumah saya. Secara kasat mata, saya senang dengan tingkahnya. Orangnya sangat santun, meski usianya jauh di atas saya. Pekerjaannya juga bisa dikatakan rapi. Singkatnya, secara teknis pekerjaan, dan kasat mata pergaulan performanya sangat baik.

Sebelum lebaran kemarin dia pamit ke kampung dulu. Dan katanya nanti pas lebaran mau balik lagi. Tapi sayup-sayup saya dengar kabar, rupanya dia meninggalkan utang di warung & orang-orang sekitar kontrakannya. 
Oh, ini rupanya yang membuat dia menghindar tak datang lagi. Sampai tulisan ini dibuat, orang ini belum datang lagi.

Padahal, saya punya banyak rencana project yang bisa dikerjakannya. Saya senang dengan sikapnya yang santun, sehingga saya berniat serius membantu kondisi finansial orang ini. Tapi rupanya begitulah tindakan yang dipilihnya. Dia menjauhkan dirinya dari rezeki.

Mereka yang punya utang, memang cenderung lebih sensitif. Ketakutan. Cemas berlebihan. Anxiety istilah psikologinya. Secara psikis, orang bermasalah memang cenderung menghindari sumber masalahnya. Mereka nyaris tak berani menghadapinya. Tapi itu justru yang semakin menyulitkan hidup mereka.

Perhatikan saja mereka yang menghindari utangnya, biasanya semakin sulit kondisi finansialnya. Kalaupun secara finansial mereka tampak baik-baik saja, biasanya ada banyak kesulitan hidup yang menghampiri mereka.

Sudahlah, jangan lagi ada utang di antara kita.

***

Dikutip secuil dari buku “The Science Of Wealth”

#2019LunasUtang
#TheScienceOfWealth

Utang dan penghasilan itu kan tetanggaan sebenarnya.

Kayaknya ada 3 jenis alasan mengapa orang berutang.

Alasan pertama : 
Mereka yang terpaksa berutang karena benar-benar kepepet. Kayak saya dulu, berutang karena memang nggak punya duit. Karena untuk menghasilkan uang 1-2juta sebulan saja, luar biasa sulitnya.

Akhirnya satu-satunya cara tercepat, terpaksa ngutang demi menyambung hidup. Entah itu pinjam ke teman, atau satu per satu perhiasan istri digadaikan. Cincin kawin sudah menghilang dijual demi bisa makan.

Alasan kedua : 
Berutang untuk modal menjalankan usaha. Entah itu memulai atau mengembangkan usahanya. Mereka yang punya alasan ini, biasanya selalu punya prinsip, “Usaha itu ya pake modal.”

Jadi menurut mereka, untuk memulai atau mengembangkan usaha ya perlu modal. Biasanya, cara paling mudah untuk dapat modal adalah dengan meminjam uang dari teman, sodara, orangtua, atau dari Bank.

Alasan ketiga : 
Mereka yang ngutang demi memenuhi kebutuhan hidup (bukan untuk bertahan hidup). Ini agak beda dengan dengan alasan pertama. Biasanya karena lingkungan. Misal karena orangtua mendesak untuk punya rumah, maka diajukanlah KPR.

Yang ini memang sudah jadi kelaziman. Karena sebagian besar orang menganggap, “Kalau nggak KPR ya nggak akan punya rumah” Atau “kalau nggak kredit ya nggak akan punya mobil”

Semuanya bermuara pada penghasilan.

Dalam konteks bertahan hidup, kalau penghasilannya besar, nggak mungkin kebingungan mau makan apa. Sehingga nggak perlu ngutang kesana kemari.

Dalam konteks usaha, kalau cara pandang terhadap penghasilannya tepat, sebenarnya ada cara lain untuk memulai atau mengembangkan usaha tanpa perlu modal uang. Atau kalaupun memang butuh modal, nggak perlu ngutang ke si A, B, C.

Dalam konteks kebutuhan hidup. Kalau cara pandangnya benar tentang rezeki, sebenarnya bisa nggak perlu KPR untuk punya rumah. Tapi karena nggak berani atau nggak punya cara berpikir bahwa “BISA KOK PUNYA RUMAH CASH”, akhirnya jalur termudah digunakan ; pinjam uang bank.

Nggak menyalahkan siapapun. Silakan saja, semua punya pilihan hidup masing-masing. Meski, memang sih…ujungnya ini soal kapasitas diri. Karena memang kapasitas diri itu berbanding lurus dengan daya tampung diri kita terhadap rezeki.

Pengen punya cendol seember, ya siapkan ember. Jangan bawa cangkir mungil.

***

Dikutip secuil dari buku The Science Of Wealth.

#2019LunasUtang
#TheScienceOfWealth

Sekali lagi saya mendengar kisah salah seorang saudara yang rela menjual assetnya yang berharga demi membayar utangnya. Dan setelah itu, satu persatu keajaiban mendatanginya. Satu persatu urusan yang tadinya begitu menyesakkan dada, mendadak terlewati dengan sangat mudah.

Saya akan bahas selengkapnya di buku “The Science Of Wealth” yang membahas tentang Wealth Mindset lebih dalam. Doakan lancar, dan terbit Agustus nanti.

Postingan ini sekaligus jadi pengingat untuk siapapun yang menunda-nunda membayar utangnya, entah karena apa. Mungkin kalian takut miskin sehingga masih enggan juga melunasi utang kalian. Percayalah, ketika kalian menunda-nunda membayar utang kalian, kalian justru sedang mengundang kemiskinan.

Atau, bisa jadi kalian tak akan jatuh miskin. Tapi mungkin, kesulitan-kesulitan hidup yang kalian alami saat ini atau nanti, adalah pertanda tersendatnya aliran sang rezeki.

Karena Kemakmuran Bukan Kebetulan!

#WealthMindset
#TheScienceOfWealth

Harga Normal ̶R̶p̶ ̶3̶1̶3̶.̶0̶0̶0̶

PROMO Rp 199.000

Pengiriman dari Bandung menggunakan ekspedisi JNE/TIKI/POS

PROMO SPECIAL
“The Science Of Wealth”
akan berakhir dalam :

Hari
Jam
Menit
Detik

Bonus Special dari saya untuk yang beli buku “The Science Of Wealth”

  1. Tiga kunci enteng rezeki (ebook)
  2. Lima jurus menambah income – Dedi Hartono (ebook)
  3. Tiga milyar tiga menit (ebook)
  4. Copywriting – Dewa Eka P (ebook)
  5. Hafal cepat dengan otak kanan – Ardi Gunawan (ebook)
  6. Menjadi kaya dalam 40 hari – Ust Yusuf Mansyur (ebook)
  7. Quantum – Ust Yusuf Mansyur (ebook)
  8. Millionare Mindset – Mardigu Wowiek (ebook)
  9. Pola pertolongan Allah – Rezha Rendy (ebook)
  10. Banner Promosi
  11. Bonus desain FB Ads dan Sticker
  12. Spesial Mascot Creator for sales

Copyright © 2019 All Right Reserved – LandingPro.net
Buku The Science Of Wealth